Masihkah Aku Bisa Dipercaya?


What is Trust?? Trust like the feeling that a child has, when you throw him in air and catch again, and he enjoys it…
Makhluk Langka
Bisa menjadi orang amanah merupakan makhluk yang langka. Karena, orang yang bisa dipercaya itu, sedikit sekali kuantitasnya di muka bumi ini. Jangankan bisa dipercaya oleh orang lain. Terkadang, mempercayai diri sendiri harus melewati proses keraguan yang panjang. Saya berharap Anda termasuk orang yang bisa dipercaya. 
Hal menarik menjadi orang terpercaya adalah, Anda dapat melakukan kebohongan. Biasanya, jika Anda sudah dipercaya, maka—sesekali melakukan hal tidak amanah—orang-orang cenderung memberikan maklumnya. Itu sebabnya, betapa banyak suami yang dipercaya, meski berulang kali selingkuh, selalu saja ada maaf oleh istri.
Tanda-tanda Dipercayai
Dalam konteks bisnis pun demikian. Penyebab utama terjadinya penipuan, karena sang penipu sangat dipercaya. Jika Anda tidak percaya, maka boleh menelusuri jejak kehidupan yang telah lewat. Bukankah Anda merasa ditipu oleh orang yang dulu Anda berikan kepercayaan penuh kepadanya?
Jika Anda masih belum percaya dengan pernyataan saya ini. Boleh sesekali Anda menguji hipotesa ini. Siapa tahu, lewat uji nyali ini, Anda menjadi lebih tau diri. Apa latihannya? Sesekali Anda pakai sepatu seharga 50ribu, kemudian katakan kepada teman-teman Anda, bahwa sepatu yang Anda pakai seharga 250ribu. Apakah orang sekitar Anda percaya?
Jika mereka percaya, maka itu menandakan Anda sudah mendapat predikat pantas untuk dipercaya. Namun, jika mereka ragu, itulah alamat Anda termasuk orang yang masih diragukan amanahnya. Tapi ingat, konsekwensi dari latihan ini, Anda sendiri yang menanggungnya. 
Cara lain bisa juga dalam bentuk rupiah. Cobalah meminjam uang senilai satu juta kepada beberapa orang. Lalu, perhatikan reaksi yang mereka berikan kepada Anda. Jika langsung meminta no rek. Bisa jadi Anda termasuk orang dipercaya. Tapi jika jawabannya cuma bisa 500 ribu. Itu pertanda, Anda masih diragukan. Dengan catatan, orang yang Anda minta pinjaman, mempunyai uang.
Hidup penuh kekinian
Sementara itu, dari kenyataan ini semua. Saya menyadari, ternyata, saya mungkin dikhianati atau dibohongi oleh kepercayaan yang saya berikan, hal itu karena, saya tidak hidup penuh sadar. Atau bahasa lain tidak hadir seutuhnya pada saat ini.
Mari kita menyadari kembali. Bukankah kita masih mempercayai orang yang kita anggap masih bisa dipercaya itu, lantaran perbandingan emosi masa lalu? Contohnya saja, saya mempercayai istri saya, berdasarkan pengalaman sudah lewat, bahwa dia amanah. Mungkin Andapun demikian. Iyakan?
Anda masih percaya kepada rekan bisnis Anda, karena berdasarkan transaksi sebelumnya, klien Anda pasti membayar jika barang telah terjual. Berkat pengalaman yang sering dilakukan oleh sang klien, Anda sudah tidak meragukan lagi. Toh sudah amat nyata terbukti beberapa kali. Bukankah seperti itu?
Nah, saat saya dan Anda mempercayai seseorang karena pengalaman emosi di masa lalu. Itulah pertanda, bahwa saya tidak hidup dalam kekinian. Saya masih terbawa dengan persepsi masa lalu tentang orang yang saya percaya. Anda pun juga demikian. Sehingga, kita tidak lagi merespon kehidupan secara nyata. Tetapi, itu semua hanya bentuk-bentuk ilusi semata.
Hati-hati Ilusi
Mengapa saya mengatakan ilusi? Karena, cara kita memandang tentang diri sendiri atau orang lain, bukan lagi secara kekinian. Tetapi, saya melihat masih menggunakan kacamata masa lalu. Berbeda hal nya jika saya hidup penuh kekinian. Sebab, jika saya hadir seutuhnya pada masa kini. Maka, saya menyikapi orang dekat dengan segala kenyataan yang ada.
Lantas, apakah kita harus curiga setiap waktu? Tidak. Bukan itu yang saya inginkan. Karena curiga pun akan mengakibatkan kita lepas dari kesadaran. Lalu seperti apa? Saya pun tidak bisa menjelaskan kepada Anda. Sebab pengertian dari sebuah definisi malah mengkerangkeng kita dari khazanah pemahaman hakikat.
Namun saya bisa bercerita kepada Anda, seperti apa saya melakukannya. Duduklah diam sejenak di tempat waktu Anda sedang membaca materi ini. Kemudian, lihatlah sekeliling Anda layaknya Anda sedang berada di tempat baru. Di mana Anda masih buta dengan lingkungan sekitar Anda. 
Kemudian buka telinga Anda lebar-lebar. Izinkan setiap suara yang Anda dengar masuk ke dalam memori Anda. Tanpa bertanya, ”Suara apakah ini?”. Demikianpula dengan perasaan Anda. Alami setiap detik terlewati, rasakan saja setiap perasaan yang Anda rasa. Itu saja. 
Lalu apa yang akan terjadi setelah Anda melakukan semua itu? Sungguh saya tidak tau apa yang akan Anda alami. Jika ingin memahami, cukup melakukan saja. Namun, bila menganalisa, sampai uban bertebaranpun, kondisi itu tidak pernah datang. 
Dipercaya Karena Enggan Bohong
Akhirnya, terlepas Anda dipercaya atau tidak. Atau malah sebaliknya Anda mempercayai seseorang atau meragukannya. Namun saya mau menyatakan satu perkara. Bahwa orang yang dipercaya itu, sekalipun mereka mempunyai kesempatan untuk berbohong. Meskipun mereka sangat memungkinkan untuk berkhianat. Tapi entah mengapa, mereka yang benar-benar bisa dipercaya, enggan melakukannya.
Ciganjur, Selasa, 19 Juni 2012
Advertisements

Belajar Kesetian Kepada Ketrampilan dari Claude Monet


Claude Monet

Claude Monet, pelukis asal Perancis menderita Glukoma. Pada akhirnya matanya benar-benar tidak bisa melihat. Namun, dia tetap melakukan kesenangannya melukis. Meskipun kedua matanya tidak bisa melihat lagi.
Hal yang menakjubkan adalah, salah satu mahakaryanya lukisannya justru hasil melukis setelah matanya buta total. Masterpiece tersebut dilelang senilai U$20Juta. 
Salah satu karya Claude Monet
Hikmah yang saya petik dari kehidupan Claude, betapa kesetiaan kepada ketrampilan itu sama halnya seperti membuat sistem. Awalnya ada upaya melelahkan saat merancangnya. Namun, setelah sistem selesai dan berjalan lancar. Maka sistem itu sendiri yang bekerja untuk kita.
Ciganjur, 11 Maret 2013

Apakah Anda Akan Mengira Bahwa Ini Kebetulan?


Ayu Utami (Novelis) mengatakan;
“Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, seorang ilmuwan akan mencari pola, dan seorang beriman akan mencari Tuhan”. Dan saya menambahkan; Sementara seorang Praktisi NLP, jika kebetulan terjadi terlalu banyak, maka dia akan mencari pola dan sujud kepada Tuhannya”.
Ingin Kue Dadar Gulung
Tiga hari yang lalu, saat mau sarapan pagi (jam 06.30), terbersit dalam diri saya untuk membeli kue “Dadar gulung”. Tapi niat ini tidak saya realisasikan dengan menuju warung yang biasanya menjual kue ini. 
Selang 9 jam kemudian, sekitar pukul 14.30. Mertua pulang sekolah membawa kue “dadar gulung” persis seperti saya inginkan. Kue tersebut “berkat” arisan teman-teman sekolahnya. 
Kepingin Roti Tawar
Persis tadi pagi—rabu 6 Maret 2013—saya kepingin roti tawar. Terkadang saya membeli pada penjual keliling yang biasanya lewat depan rumah. Dan kalau tidak ada tukang keliling, saya membeli di Indomaret. Entah kenapa keinginan ini juga tidak saya realisasikan (beli ke Indomaret).
Siang sekitar jam 13.00, istri saya keluar rumah untuk membeli susu UHT buat putri kami. Pas pulangnya saya perhatikan, salah satu isi belanjaannya dalam kresek berwarna hitam. Ada roti tawar rasa pondanseperti yang saya mau.

Ingin Tau Keadaan Daurie
Sekitar 20 hari yang lalu. Saya sedangasyik melihat-lihat teman-teman di kontak BB (270FE9B7). Pas sampai pada satu namaseorang sahabat yang sering menjadi teman diskusi saya—Daurie Bintang. Terbersit dalam diri saya untuk  menghungi karena ingin tau perihalnya.Sudah lama tidak berkomunikasi nih, bagaimana kabarnya ya?“.
Eh keesokan harinya. Saya melihat pengomentar pada catatan saya di facebook. Salah satunya ada komentar dari sahabat saya Daurie. Saya mau menyapa dan mengetahui keadaananya, namun yang terjadi, malah dia duluan berkomentar. Selanjutnya say hello lewat Fbpun terjadi.
Mau Menyapa Kak Jebel
Ini terjadi, pertengahan Februari yang lalu. Malam hari tanpa sengaja saya teringat dengan seorang kakak alumni kampus saya. Namanya Jebel Firdaus.Terakhir kontak dengan beliau, Kak Jebel beraktivitas sebagai Guru di SMK Sudirman Jakarta (kalau saya gak salah). Ada keinginan dalam diri saya untuk mengetahui, apakah sekarang masih mengajar atau memulai aktifitas baru?
Keesokan harinya, sekitar jam 09.30 saat saya online dan memposting artikel di web saya www.rahmadsyah.com. Saya perhatikan jendela obrolan FB menyala-nyala. Pertanda ada  yang sedang chat dengan saya. Dan ternyata, teman fb yang chat itu adalah kakak alumni yang ingin saya sapa dan tanya aktivitasnya tadi
Bahkan yang membuat saya terkejut. Isi komunikasi dalam chat tersebut. Beliau bermaksud mengundang saya untuk menjadi pengisi motivasi bagi siswa kelas 3 yang mau menghadapi UN di sekolahnya. (Berarti, penasaran saya terjawab. Bahwa beliau masih menjadi guru).
Kepingin Bubur Kacang Ijo
Pada tahun 2010. Saat itu saya masih melajang, belum menikah. Saya menyewa kamar kos-kosan di area Matrama Dalam. Sekitar jam 20.00 saya tib di terminal angkot dan kopaja 620 Manggarai – Blok M. Pulang dari kantor saya dan kedua shahabat saya di daerah Wolter Monginsidi.
Biasanya dari Pasaraya Manggarai, saya melanjutkan naik Bajaj. Tapi malam itu saya memutuskan jalan kaki saja. Selama dalam perjalanan pulang mengguna tafak (jalan kaki). Terbersit keinginan “Kalau ketemu bubur kacang ijo mau beli ah” Saya berbicara sendiri.  
Biasanya jalan yang saya lewati itu, ada pedagang tenda kecil menjual bubur ayam dan kacang ijo. Akan tetapi, malam itu saya gak ketemu dengan tenda-tenda yang menjual bubur kacang Ijo. Sampai saya tiba di kamar kosan.
Keesokan harinya sekitar jam 06.30wib. Di tempat kosan saya itu menyediakan teh dan roti tawar berisi cokelat. Terkadang nasi goreng. Namun membuat saya suprise hari itu. Di atas meja depan kamar saya, tempat biasanya terhidang teh dan roti tawar. Terdapat segelas bubur kacang Ijo. Dalam hati “Terima kasih ya Allah. Keingina saya telah Engkau wujudkan”.
Polisi dikeroyok Masa
Akhir tahun 2009, saat hendak pulang ke Bogor dengan kereta terakhir dari Stasiun Gongdandia. Terbersit hal tidak baik—menurut nilai-nilai yang saya pegang—dalam diri saya. Semasa menunggu kereta sampai dari stasiun kota ke Gandangdia. Saya lihat ke bawah ke arah pasar Gongdangdia. 
Kemudian terbersitlah “Hemmm malam begini bakal ada maling atau tidak ya? Kalau ada sepertinya habis keroyok oleh warga setempat dan yang sedang menjaga tokonya“. Eh benar kejadian. 5 menit kemudian ada maling dikejar warga dan dikeroyok (dihakimi warga)
Lalu sekitar 10 menit kemudian, datang seorang polisi dengan mobil patrolinya. Saat saya lihat polisi ini turun dari mobil menuju ke tempat maling diamankan (tepatnya dihakimi warga). Terbersit dalam diri saya “Ini polisi kalau dikeroyok warga bagaimana ya? Apakah ada polisi yang diserang oleh warga karena ingin mengamankan pencuri?” 
Eh benar kejadian. Tidak lama saat si polisi mau membawa maling, ada warga berselisih pendapat dengan polisi tersebut. Sampai terjadi dorong-dorongan antara polisi dengan beberapa warga. Melihat fakta itu, jantung saya berdetak sangat kencang. Bahkan saat menulis ini pun, saya masih terasa sedikit ketakutan seperti saya alami saat itu
Dan semenjak itu, saya tidakberani memikirkan hal yang tak saya inginkan. Kalau pun terbersit tanpa saya sadari, maka saya segera istigfar.  
Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?
Mungkin bisa jadi Anda mengira itu adalah kebetulan. Akan tetapi, bila saya mengamati suasana pikiran dan perasaan serta kondisi tubuh. Sebenarnya proses terbersitnya keinginan dengan terwujudnya keinginan tersebut, ada POLAnya. Bagaimana P O L A nya?
 
Dan menariknya adalah, bahkan ini patut saya garis bawahi. Bahwa peristiwa yang terjadi itu, bukan hanya dalam konteks keinginan yang baik saja. Bahkan, hal yang tak pernah didinginkanpun, juga menjadi nyata. Setelah membaca sampai paragraf ini, mungkin Anda bertanya-tanya seperti saya dulu. “Mengapa hal ini bisa terjadi?” 
Inilah salah satu pembahasanyang saya kupasdalam Workshop Optimasi Bawah Sadar, Sabtu 16 Maret 2013 di Gedung Galeri678, Kemang Selatan. Pastikan Anda sudah mendaftarkan diri Anda, team, saudara, atau sahabat Anda S E K A R A N G !!!
Hubungi 0878.7603.7227 
Ciganjur, Rabu 6 Maret 2013
#Optimasi Bawah Sadar | Follow @mind_therapist | 270FE9B7 | www.rahmadsyah.com| Author The Tsunami Effect.

Tindakan Ini Bisa Membuat Orang Tua Bangga


Semoga Allah memberkahimu dan menetapkan berkah atasmu, serta mengumpulkan engkau berdua dalam kebaikan.” 
Hadits Riwayat Ahmad
Putri Saya Nur Avelyna
Pernikahan Kakak Ipar
Minggu, 4 November 2012. Merupakan hari bersejarah bagi kakak ipar saya Muchlis Muttaqin. Karena, hari itu menjadi hari penyempurnaan ruang-ruang keimanannya. Yakni, menunaikan salah satu sunah Rasul—nikah. Tepat jam 08 lewat 42 menit. Dia mengucapkan ”Saya terima nikah dan kawinya … dibayar tunai”. 
Detik-detik prosesi kebahagiaan itu, membuat saya terkenang peristiwa 04 Desember 2010 silam. Di mana, pada jam 08.20 saya mengucapkan kalimat serupa. Yang berbeda adalah nama wanita yang dinikahkan serta jumlah maharnya. 
Sempat sejenak suasana itu mengubah suasana hati saya. Suasana itu deg-degan dan harap-harap cemas. Di samping itu, juga ingin menyegerakannya. Hanya yang sudah pernah mengalami dapat merasakan suasana yang saya ceritakan ini. Yakni detik-detik ijab-qabul.
Setelah akad nikah. Keluarga dari pengantin perempuan mengajak seluruh sanak saudara kami untuk menyantap sarapan yang telah disediakan di gedung Aula Sudirman Makodam Jaya, Jakarta. Sementara acara walimahan (makan-makan) mulai jam 11.00 wib.
Setelah menyantap makanan yang disediakan, sembari menanti kedua pengantin duduk di atas pelaminan berhias adat sumatera barat itu. Saya duduk bersama keluarga ibu mertua yang dari Pacitan. Bu le dan Bu de. (Bu le panggilan untuk adik kandung ibu mertua. Sementara Bu de, saudara sepupu ibu mertua).
Entah karena ini adalah hari resepsi pernikahan, mereka membahas tentang jadwal akad nikah sepupu saya mas Arif. Mas Arif adalah anak dari Pak De Ahmad dan Bu deKarti. Pakde Ahmad merupakan sepupu dari ibu mertua. 
Ternyata anakku laki-laki tulen.
Nah, hal menarik dari pembicaraan itu, saat Bu de Karti menceritakan proses mas Arif datang ke keluarga perempuan yang akan dinikahinya. Bu de Karti menceritakan ”Si Arif berangkat ke Lampung (asal keluarga si gadis calon istrinya) hanya bilang mau main-main ke tempat temanya. Eh pas pulangnya baru ngomong dan ajak kami agar bertemu dengan keluarga si perempuan”. Kata Bu de Karti.
Kemudian beliau melanjutkan, ”Saat kami ke sana (Lampung) berjumpa keluarga si wanita, alhamdulillah mereka menyambut dengan baik. Dan sampai di sana si perempuan cerita ke kami. Bahwa Arif saat datang ke sana bersama temannya. Dia bertemu dengan orang tua perempuan dan menyampaikan niatnya untuk menikahi anak mereka.
Hal menarik bahkan berkesan bagi saya, tatkala Bude Karti menceritakan respon Pakde Amad (ayah Mas Arif) yang bangga akan anaknya, ”Saat mendengar cerita si perempuan. Ayahnya si Arif ngomong ke saya Ternyata anakku laki-laki tulen”. Ungkapan itu keluar, karena gak pernah menyangka bahwa anak laki-laki beliau senekad itu.
Kebanggaan Orang Tua
Lalu saya ngomong ke istri, ”Ternyata bagi orang tua, justru bangga bila anaknya seberani itu menyatakan niatnya untuk menikah, dan meyakinkan orang tua si wanita”. Kata saya. Lalu saya lanjutkan, ”Bahkan, orang tua wanita pun, juga terkesima akan keberanian mas Arif. Sehingga mereka yakin menyerahkan anak wanita mereka untuk menjadi calon istri mas Arif”. Tambah saya.
Dari kejadian ini, saya memetik pelajaran. Ternyata, bagi beberapa orang tua menjadi kebanggaan tersendiri, jika anaknya berani menyampaikan sendiri niat menyempurnakan bagian dari agamanya kepada keluarga si wanita, tanpa orang tua harus mendampinginya.
Akhirnya, tepat jam 14.00 acara walimatul urusynya selesai dengan khidmat. Setelah beres-beres semua, saya bersama istri dan keluarga besar kembali ke rumah di Ciganjur.
Note: Alhamdulillah, pada tanggal 2 Februari 2013 yang lalu, Mas Arif telah tercatat di KUA melaksanakan akad nikah di Lampung.
 
Ciganjur, Senin, 5 November 2012

Bagaimana Cara Mengoptimalkan Potensi Bawah Sadar?

—————————————————————————————–
O P T I M A S I – B A W A H – S A D A R
—————————————————————————————–
Kiat Praktis Mengoptimalkan Potensi Bawah Sadar untuk Melejitkan Karir, Memajukan Bisnis, dan Penyembuhan Diri (Kesehatan).
W A K T U & T E M P A T;
——————————-
Sabtu, 16 Maret 2013 | 13.00 – 17.00 Wib | @Galeri 678 Kemang Selatan Jl. Kemang Selatan Raya No 125 A.
I N V E S T A S I;
———————
Rp. 750.000, – Harga Normal.
Rp. 100.000,- Khusus untuk Anda yang memiliki buku The Tsunami Effect.
Transfer ke Rek BCA a.n Rahmadsyah 0430746162 Cabang Banda Aceh
(Harap mengkonfirmasi setelah transfer dan menyimpan bukti transferan).

M E M B A H A S  T E N T A N G;
——————————–
1/. Mengenali pikiran sadar dan bawah sadar.
2/. Latihan Connected (berkomunikasi) dengan bawah sadar.
3/. Latihan menajamkan intuisi (untuk bisnis dan karir).
4/. Latihan berkomunikasi dengan Sang Bijak dan Kreatif dalam diri.
5/. Latihan penyembuhan diri (Self-Healing) menggunakan kekuatan bawah sadar.
F A S I L I T A T O R;
————————-
Rahmadsyah Mind-Therapist
Trainer Self-Potentials Optimizer | Associate Trainer Tantowi Yahya Public Speaking School | Certified Master NLP Practitioner | Hypnotherapist | Personal Coach Goal Setting |Hand-Writing Analysist
P E N D A F T A R A N;
————————–
Hubungi 0878.7603.7227 atau BB 270FE9B7

T E R B A T A S;
—————–
Hanya untuk 20 Kursi saja.

Rahasia Agar Laris Menjual


Do not sell what do you want, but sell what your costumer need.
Mulai sekarang herhenti menjual. Tapi mulailah memberikan solusi.
Quote Tentang Tenjualan.
  
Dulu saya terkagum-kagum kepada Para PENJUAL—yang saya anggap HEBAT—saat mempersuasi pelanggannya. Mereka mempunyai kata-kata dahsyat nan menghipnosis. Mampu membuat pelanggan terpukau akan penjelasannya. Namun tanpa membohongi pelanggannya.
Pernah terbersit dalam diriku, “Apa yang menyebabkan mereka mampu seperti itu?“. Saya menduga-duga, bisa jadi karena mereka tau pola bahasanya. Atau mengetahui ilmu mempengaruhi—meyakinkan pelanggan / calon pembeli—lewat kata-katanya. 
Kemudian, saya mencari-cari info tentang ilmu tersebut. Buku-buku mengenai cara meyakinkan prospek pun saya beli. Akhirnya kesempatan mengikuti pelatihan dan belajar menggunakan ilmu mempengaruhi pelanggan juga saya ikut
Tapi anehnya. Entah mengapa saat saya mempersuasi calon pembeli, kata-kata penuh meyakinkan seperti pola bahasa yang telah saya pelajari dalam pelatihan dan buku, tidak satupun terucap oleh mulutku? Saya bertanya kembali kepada diri sendiri. “Apa yang salah ini?”
Setelah mencari-cari, akhirnya, perjalanan Training Motivasi untuk agent-agen Prudential group Pru Power Vision di Palangkaraya menjodohkan saya dengan jawaban yang saya cari-cari. 
Kini saya tahu. Rupanya, ada hal yang belum saya sadari selama ini. Sehebat apa pun ilmu persuasi—mengolah kata-kata nan menghipnosisbelum cukup untuk menjadikan saya ahli menjual. Sebelum saya benar-benar Y A K I N terhadap produk/jasa yang saya jual. 
Kemudian, hal selanjutnya menjadi penting. Pemahaman tentang produk atau sering disebut Product Knowledge. Bukan harus. Tapi wajib hukumnya saya ketahui. Baru setelah itu, bahkan jika seorang tersebut tidak belajar ilmu pola bahasa persuasi pun. Maka, dia mampu menjual dan meyakinkan pelanggan dengan elegan.
Ciganjur, 27 Februari 2013.

Jadwal Anda Tidak Pernah Bohong



Jadwal Anda adalah barometer terbaik atas apa yang benar-benar Anda hargai dan percayai sebagai sesuatu yang penting.
Robin Sharma
Tolak-ukur Judul Skripsi
Setiap mahasiswa yang akan menyelesaikan kuliahnya, biasanya pasti mengalami tugas akhir. Tugas akhir tersebut sering dinamai skripsi. Suatu aktifitas membuat masalah, kemudian menyelesaikan sendiri. Seperti itulah kira-kira aktivitasnya. Dan perlu Anda notis di sini. Pengertian tadi bersumber dari mahasiswa yang tidak menyelesaikan skripsinya, setelah terjadi penolakan tiga kali. Mahasiswa itu adalah saya.
Meski demikian, saya banyak mengambil hikmah dari pengalaman menulis skripsi. Seperti, ketika saya mengajukan calon judul penelitian kepada dosen pembimbing. Ada pertanyaan beliau yang tidak saya pikirkan saat menyerahkan judul karya saya. Beliau bertanya “Mas Rahmad, ini tolakukurnya apa?”. Saya bingung menjawabnya. Karena, saya tidak mengetahui akan hal itu sebelumnya.
Namun, ada yang menarik di sini. Rupanya, pertanyaan dosen pembimbing tadi, justru menjadi ilmu sangat berguna bagi saya sekarang. Bahkan, saya jadikan materi pelatihan saya. Seperti, training Mengukir Jejak Di Semesta. Pelatihan ini membahas, bagaimana cara menyadari potensi dalam diri kita. Selain itu, menyadari, apa visi dan misi hidup selama singgah di bumi. Juga, mempelajari, bagaimana cara menentukan Ultimate Achievements.
Visi Yang Jelas
Nah, saat sesi menentukan Visi hidup. saya sering menyampaikan kepada peserta. “Tatkala kita menetapkan sebuah visi, maka, dalam  kepala kita harus jelas tolakukurnya”. Maksudnya, pernyataan visi, tidak hanya sebatas kalimat penuh daya saja. Tetapi, secara tak tertulis, pikiran kita memahami maksudnya. Sehingga, misinya mudah kita tetapkan.
Sementara itu, tadi selepas shalat isya. Saya duduk di atas kursi ruang tengah (rumah). Kursinya terbuat dari kayu. Alas duduknya berlapis kassa, berselimut kain bludu. Kursinya berwarna cokelat kehitaman. Saya memegang dan membuka buku The Greatest Guide, karya Robin Sharma. 
Secangkir Kopi Bersama Gandhi
Sebenarnya, tahun 2009. Saya sudah selesai membaca isi buku ini sampai habis. Namun, sekarang saya mengulangnya lagi. Karena, menurut saya, nukilan-nukilan gagasannya sangat sederhana. Mudah untuk saya praktekkan. Idenya sangat bertenaga. Sekarang ini saya membacanya lagi sambil mengunyah celetukannya perlahan-lahan. Sekaligus menjalankan materi yang pak Hernowo ajarkan dalam buku beliau “Mengikat Makna Update—Menulis apa yang dibaca”. 
Jadi, bila saya bertemu dengan pembahasan—yang saya anggap bermakna—maka, saya mengikatnya berupa catatan. Seperti cerita saya sebelumnya, “Siapa teman kopi Anda pagi ini?”. Ide tulisan itu, berawal dari gagasan Robin Sharma. “Secangkir Kopi Bersama Gandhi”.
Jadwal Anda Tidak Pernah Bohong
Topik Barometer Prioritas pun—yang ada di tangan Anda sekarang—merupakan agenda mengikat makna, setelah saya membaca penjelasan Robin tentang, “Jadwal Anda Tidak Pernah Bohong”. Ada pernyataan Robin dalam artikel tersebut menggelitik saya untuk merekam maknanya. “Tunjukkan kepada saya jadwal mingguan Anda. Maka, saya bisa mengetahui, apa prioritas hidup Anda”. Robin berkata. 
Selain itu, dia juga menjelaskan, bahwa tindakan yang kita lakukan mengakibatkan telinga kita menjadi tuli akan janji yang pernah kita ucapkan. Maksudnya, perbuatan itu tidak pernah bisa bohong. Karena dia berupa bukti nyata. Sehingga, jika seseorang mengatakan penting menulis catatan harian. Maka, sepatutnya tertulis rapi jadwal menulis dalam agenda mingguannya.
Jika ada orang mengatakan, bahwa olah raga penting. Maka, jadwal berolah raga tidak luput dari list aktifitas hariannya. “Anda bisa saja mengaku bahwa keluarga adalah prioritas pertama dan terpenting dalam hidup Anda, tapi jika waktu bersama mereka tidak ada dalam jadwal Anda, hmmm, berarti Anda sebenarnya kehidupan berkeluarga bukan prioritas Anda”. Kata CEO Sharma Leadership centre.
Inspirasi Dari The Greatest Guide
Kemudian dia menambahkan “Anda bisa saja berkata, kondisi fisik yang prima adalah hal yang utama bagi Anda, tapi jika saya tidak melihat lima atau enam latihan olahraga tertulis dalam jadwal mingguan Anda, berarti pernyataan Anda itu, perlu dipertanyakan. Anda berpendapat pengembangan diri perlu disusahkan, karena semakin Anda terampil, Anda akan menjadi semakin efektif. Perlihatkan jadwal Anda pada saya, dan saya mengetahui kebenaran perkataan Anda. Karena, jadwal Anda tidak pernah bohong”.
Setelah selesai membaca ide ini pada halaman 81-82, di buku The Greatest Guide. Saya menyadari, ternyata, ada hal yang tidak saya kerjakan selama ini. Saya menganggap sepele persoalan jadwal. Padahal, jadwal ini barometer dari komitmen saya terhadap perkataan saya sendiri. “Jadwal Anda adalah barometer terbaik atas apa yang benar-benar Anda hargai dan percayai sebagai sesuatu yang penting”. Demikian kata Robin.
Ciganjur, Kamis, 7 Juni 2012