Belajar Kesetian Kepada Ketrampilan dari Claude Monet


Claude Monet

Claude Monet, pelukis asal Perancis menderita Glukoma. Pada akhirnya matanya benar-benar tidak bisa melihat. Namun, dia tetap melakukan kesenangannya melukis. Meskipun kedua matanya tidak bisa melihat lagi.
Hal yang menakjubkan adalah, salah satu mahakaryanya lukisannya justru hasil melukis setelah matanya buta total. Masterpiece tersebut dilelang senilai U$20Juta. 
Salah satu karya Claude Monet
Hikmah yang saya petik dari kehidupan Claude, betapa kesetiaan kepada ketrampilan itu sama halnya seperti membuat sistem. Awalnya ada upaya melelahkan saat merancangnya. Namun, setelah sistem selesai dan berjalan lancar. Maka sistem itu sendiri yang bekerja untuk kita.
Ciganjur, 11 Maret 2013

Tindakan Ini Bisa Membuat Orang Tua Bangga


Semoga Allah memberkahimu dan menetapkan berkah atasmu, serta mengumpulkan engkau berdua dalam kebaikan.” 
Hadits Riwayat Ahmad
Putri Saya Nur Avelyna
Pernikahan Kakak Ipar
Minggu, 4 November 2012. Merupakan hari bersejarah bagi kakak ipar saya Muchlis Muttaqin. Karena, hari itu menjadi hari penyempurnaan ruang-ruang keimanannya. Yakni, menunaikan salah satu sunah Rasul—nikah. Tepat jam 08 lewat 42 menit. Dia mengucapkan ”Saya terima nikah dan kawinya … dibayar tunai”. 
Detik-detik prosesi kebahagiaan itu, membuat saya terkenang peristiwa 04 Desember 2010 silam. Di mana, pada jam 08.20 saya mengucapkan kalimat serupa. Yang berbeda adalah nama wanita yang dinikahkan serta jumlah maharnya. 
Sempat sejenak suasana itu mengubah suasana hati saya. Suasana itu deg-degan dan harap-harap cemas. Di samping itu, juga ingin menyegerakannya. Hanya yang sudah pernah mengalami dapat merasakan suasana yang saya ceritakan ini. Yakni detik-detik ijab-qabul.
Setelah akad nikah. Keluarga dari pengantin perempuan mengajak seluruh sanak saudara kami untuk menyantap sarapan yang telah disediakan di gedung Aula Sudirman Makodam Jaya, Jakarta. Sementara acara walimahan (makan-makan) mulai jam 11.00 wib.
Setelah menyantap makanan yang disediakan, sembari menanti kedua pengantin duduk di atas pelaminan berhias adat sumatera barat itu. Saya duduk bersama keluarga ibu mertua yang dari Pacitan. Bu le dan Bu de. (Bu le panggilan untuk adik kandung ibu mertua. Sementara Bu de, saudara sepupu ibu mertua).
Entah karena ini adalah hari resepsi pernikahan, mereka membahas tentang jadwal akad nikah sepupu saya mas Arif. Mas Arif adalah anak dari Pak De Ahmad dan Bu deKarti. Pakde Ahmad merupakan sepupu dari ibu mertua. 
Ternyata anakku laki-laki tulen.
Nah, hal menarik dari pembicaraan itu, saat Bu de Karti menceritakan proses mas Arif datang ke keluarga perempuan yang akan dinikahinya. Bu de Karti menceritakan ”Si Arif berangkat ke Lampung (asal keluarga si gadis calon istrinya) hanya bilang mau main-main ke tempat temanya. Eh pas pulangnya baru ngomong dan ajak kami agar bertemu dengan keluarga si perempuan”. Kata Bu de Karti.
Kemudian beliau melanjutkan, ”Saat kami ke sana (Lampung) berjumpa keluarga si wanita, alhamdulillah mereka menyambut dengan baik. Dan sampai di sana si perempuan cerita ke kami. Bahwa Arif saat datang ke sana bersama temannya. Dia bertemu dengan orang tua perempuan dan menyampaikan niatnya untuk menikahi anak mereka.
Hal menarik bahkan berkesan bagi saya, tatkala Bude Karti menceritakan respon Pakde Amad (ayah Mas Arif) yang bangga akan anaknya, ”Saat mendengar cerita si perempuan. Ayahnya si Arif ngomong ke saya Ternyata anakku laki-laki tulen”. Ungkapan itu keluar, karena gak pernah menyangka bahwa anak laki-laki beliau senekad itu.
Kebanggaan Orang Tua
Lalu saya ngomong ke istri, ”Ternyata bagi orang tua, justru bangga bila anaknya seberani itu menyatakan niatnya untuk menikah, dan meyakinkan orang tua si wanita”. Kata saya. Lalu saya lanjutkan, ”Bahkan, orang tua wanita pun, juga terkesima akan keberanian mas Arif. Sehingga mereka yakin menyerahkan anak wanita mereka untuk menjadi calon istri mas Arif”. Tambah saya.
Dari kejadian ini, saya memetik pelajaran. Ternyata, bagi beberapa orang tua menjadi kebanggaan tersendiri, jika anaknya berani menyampaikan sendiri niat menyempurnakan bagian dari agamanya kepada keluarga si wanita, tanpa orang tua harus mendampinginya.
Akhirnya, tepat jam 14.00 acara walimatul urusynya selesai dengan khidmat. Setelah beres-beres semua, saya bersama istri dan keluarga besar kembali ke rumah di Ciganjur.
Note: Alhamdulillah, pada tanggal 2 Februari 2013 yang lalu, Mas Arif telah tercatat di KUA melaksanakan akad nikah di Lampung.
 
Ciganjur, Senin, 5 November 2012

Jadwal Anda Tidak Pernah Bohong



Jadwal Anda adalah barometer terbaik atas apa yang benar-benar Anda hargai dan percayai sebagai sesuatu yang penting.
Robin Sharma
Tolak-ukur Judul Skripsi
Setiap mahasiswa yang akan menyelesaikan kuliahnya, biasanya pasti mengalami tugas akhir. Tugas akhir tersebut sering dinamai skripsi. Suatu aktifitas membuat masalah, kemudian menyelesaikan sendiri. Seperti itulah kira-kira aktivitasnya. Dan perlu Anda notis di sini. Pengertian tadi bersumber dari mahasiswa yang tidak menyelesaikan skripsinya, setelah terjadi penolakan tiga kali. Mahasiswa itu adalah saya.
Meski demikian, saya banyak mengambil hikmah dari pengalaman menulis skripsi. Seperti, ketika saya mengajukan calon judul penelitian kepada dosen pembimbing. Ada pertanyaan beliau yang tidak saya pikirkan saat menyerahkan judul karya saya. Beliau bertanya “Mas Rahmad, ini tolakukurnya apa?”. Saya bingung menjawabnya. Karena, saya tidak mengetahui akan hal itu sebelumnya.
Namun, ada yang menarik di sini. Rupanya, pertanyaan dosen pembimbing tadi, justru menjadi ilmu sangat berguna bagi saya sekarang. Bahkan, saya jadikan materi pelatihan saya. Seperti, training Mengukir Jejak Di Semesta. Pelatihan ini membahas, bagaimana cara menyadari potensi dalam diri kita. Selain itu, menyadari, apa visi dan misi hidup selama singgah di bumi. Juga, mempelajari, bagaimana cara menentukan Ultimate Achievements.
Visi Yang Jelas
Nah, saat sesi menentukan Visi hidup. saya sering menyampaikan kepada peserta. “Tatkala kita menetapkan sebuah visi, maka, dalam  kepala kita harus jelas tolakukurnya”. Maksudnya, pernyataan visi, tidak hanya sebatas kalimat penuh daya saja. Tetapi, secara tak tertulis, pikiran kita memahami maksudnya. Sehingga, misinya mudah kita tetapkan.
Sementara itu, tadi selepas shalat isya. Saya duduk di atas kursi ruang tengah (rumah). Kursinya terbuat dari kayu. Alas duduknya berlapis kassa, berselimut kain bludu. Kursinya berwarna cokelat kehitaman. Saya memegang dan membuka buku The Greatest Guide, karya Robin Sharma. 
Secangkir Kopi Bersama Gandhi
Sebenarnya, tahun 2009. Saya sudah selesai membaca isi buku ini sampai habis. Namun, sekarang saya mengulangnya lagi. Karena, menurut saya, nukilan-nukilan gagasannya sangat sederhana. Mudah untuk saya praktekkan. Idenya sangat bertenaga. Sekarang ini saya membacanya lagi sambil mengunyah celetukannya perlahan-lahan. Sekaligus menjalankan materi yang pak Hernowo ajarkan dalam buku beliau “Mengikat Makna Update—Menulis apa yang dibaca”. 
Jadi, bila saya bertemu dengan pembahasan—yang saya anggap bermakna—maka, saya mengikatnya berupa catatan. Seperti cerita saya sebelumnya, “Siapa teman kopi Anda pagi ini?”. Ide tulisan itu, berawal dari gagasan Robin Sharma. “Secangkir Kopi Bersama Gandhi”.
Jadwal Anda Tidak Pernah Bohong
Topik Barometer Prioritas pun—yang ada di tangan Anda sekarang—merupakan agenda mengikat makna, setelah saya membaca penjelasan Robin tentang, “Jadwal Anda Tidak Pernah Bohong”. Ada pernyataan Robin dalam artikel tersebut menggelitik saya untuk merekam maknanya. “Tunjukkan kepada saya jadwal mingguan Anda. Maka, saya bisa mengetahui, apa prioritas hidup Anda”. Robin berkata. 
Selain itu, dia juga menjelaskan, bahwa tindakan yang kita lakukan mengakibatkan telinga kita menjadi tuli akan janji yang pernah kita ucapkan. Maksudnya, perbuatan itu tidak pernah bisa bohong. Karena dia berupa bukti nyata. Sehingga, jika seseorang mengatakan penting menulis catatan harian. Maka, sepatutnya tertulis rapi jadwal menulis dalam agenda mingguannya.
Jika ada orang mengatakan, bahwa olah raga penting. Maka, jadwal berolah raga tidak luput dari list aktifitas hariannya. “Anda bisa saja mengaku bahwa keluarga adalah prioritas pertama dan terpenting dalam hidup Anda, tapi jika waktu bersama mereka tidak ada dalam jadwal Anda, hmmm, berarti Anda sebenarnya kehidupan berkeluarga bukan prioritas Anda”. Kata CEO Sharma Leadership centre.
Inspirasi Dari The Greatest Guide
Kemudian dia menambahkan “Anda bisa saja berkata, kondisi fisik yang prima adalah hal yang utama bagi Anda, tapi jika saya tidak melihat lima atau enam latihan olahraga tertulis dalam jadwal mingguan Anda, berarti pernyataan Anda itu, perlu dipertanyakan. Anda berpendapat pengembangan diri perlu disusahkan, karena semakin Anda terampil, Anda akan menjadi semakin efektif. Perlihatkan jadwal Anda pada saya, dan saya mengetahui kebenaran perkataan Anda. Karena, jadwal Anda tidak pernah bohong”.
Setelah selesai membaca ide ini pada halaman 81-82, di buku The Greatest Guide. Saya menyadari, ternyata, ada hal yang tidak saya kerjakan selama ini. Saya menganggap sepele persoalan jadwal. Padahal, jadwal ini barometer dari komitmen saya terhadap perkataan saya sendiri. “Jadwal Anda adalah barometer terbaik atas apa yang benar-benar Anda hargai dan percayai sebagai sesuatu yang penting”. Demikian kata Robin.
Ciganjur, Kamis, 7 Juni 2012

Berkah Silaturahim; Dari Tau Cara Handling Objection Sampai Melek Finansial


Allah ’azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga haknya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus dirinya.” (HR. Ahmad 1/194, shahih lighoirihi).
Tiada yang meragukan
Tidak sedikit orang yang tidak meragukan, bahwa yang namanya menyambung silaturahim itu banyak membawa manfaatnya bagi si pelakunya. Entah dari aspek finansial, kesehatan, karir, pengetahuan dan cinta. Iyakan? 
Atau mungkin Anda masih mempunyai aspek lain dari hal yang telah saya catat ini. Sila menambahkan sendiri atau mengomentari tulisan ini. Agar menambah khazanah saya dan orang-orang membacanya. Bersediakan?
Bertemu pendakwah
Itulah kira-kira hal yang saya alami setelah bertemu dengan shahabat saya Ibnu Permana. Jumaat, jam 14.30 saya menemui seorang teman di restoran lobbyCilandak Mall. Pertama-tama kami saling membahas perihal aktifitas sehari-hari. Seperti saya yang masih tetap istiqamah menjadi pembicara untuk bercuap-cuap tentang Public speaking, motivasi, Komunikasi Effektif, dan Change paradigm (breaking mental block in-selling & presentation).
Demikian pula dengan shahabat saya ini. Selain aktif menjadi pedakwah—istilah dia menglabelkan dirinya terhadap aktifitas jualan yang dia kerjakan—dia juga menjadi lelaki panggilan—istilah untuk kata pembicara—ke perusahaan, yayasan atau intansi tertentu.
Kami bercakap-cakap selama 3 jam. Sungguh sangat tidak terasa waktu berjalan. Karena, banyak hal yang kami diskusikan. Mungkin karena diskusi itu menarik bagi saya juga baginya. Sehingga, tak terasa berlalu. Hal yang kami bahas tentang penjualan. Tehnik-tehnik handling objection
Siapa penjual handal?
Dari pertemuan itu, saya belajar banyak hal. Jika saya simpulkan, penjual yang handal bukan karena dia tau banyak hal tentang mempersuasi pelanggannya. Bukan pula karena produk maupun jasa yang dia tawarkan kualitasnya luar biasa bagus. Akan tetapi, mindset dan attitudenyalah yang menentukan.
Jika Anda beraktifitas sebagai penjual, saya yakin Anda setuju. Betulkan? Meskipun hal lain, seperti; pola bahasa, pilihan kata, intonasi, dan produk juga menentukan. Namun, pengalaman pribadi saya baik saat mengajarkan program pelatihan Breaking Mental Block in Selling maupun melayani konsultasi. Saya menyimpulkan. Mindset dan Attitudelah yang utama.
Inilah manfaat yang saya peroleh menyambung silaturahim dengannya. Yaitu mendapatkan banyak pelajaran tentang handling objection.  
Kopdar milist TMI
Sementara itu, Sabtu 5 Januari 2013. Saya mempunyai dua agenda silaturahim. Pertama kopi darat atau sering disebut kopdar milist The Manager Indonesia. Acara ini diprakarsai oleh salah seorang moderator milist. Kami bertemu di Green Tebet jalan MT Haryono. Dekat stasiun Cawang.
Pertemuan ini tidak terlalu resmi. Ngobrol santai. Bahkan, yang dibicarakan pun hal umum yang berdekatan kehidupan sehari-hari. Seperti pendidikan di Indoensia dan bisnis property. Bukan mentang-mentang milist The Manager Indonesia, maka hanya membahas khusus topik managerial. 
Meskipun yang hadir hanya 6 orang. Tapi tidak mengurangi sedikit pun energi semangat membangun kebersamaan antar anggota secara off line. Rencananya, ke depan kopdar ini terus berjalan rutin. Minimal dua bulan sekali. 
Melek finansial
Ada pun manfaat pribadi saya peroleh dari pertemuan ini. Saya menjadi tau tentang bisnis property. Selain itu, melek finansial agar bisa pasif income. Karena salah seorang yang hadir adalah bisnisman—owner—telah menjalankan prinsip tersebut. Beliau punya 7 usaha. Di antara 7 usaha tersebut hanya 2 usaha intens beliau tangani. Selebihnya beliau serahkan kepada orang lain dan beliau menikmati hasilnya saja (pasif income).
Oh ya, apakah Anda mau tau bagaimana tolak ukur sederhana Anda dan saya sudah pasif income atau belum? Ternyata sangat simple. Jika kebutuhan harian kita sebulan katakanlah Rp.5.000.000,- kemudian ada usaha tanpa kita aktif terjun—operasionalnya—menghasilkan senilai kebutuhan kita. Maka kita sudah pasif income.  
Selesai kopdar di Green Tebet, saya melanjutkan ke pertemuan selanjutnya. Arisan alumni kuliah STEI tazkia angkatan 5. Acaranya dekat Taman mini. Di kediaman shahabat kami Anisa. 
Tidak ada yang kebetulan
Ngomong-ngomong, apakah Anda percaya kebetulan? Saya percaya. Akan tetapi, menurut saya, banyak hal dalam hidup bukan kebetulan. Terus apa? Kebanyakannya adalah rencana dan keputusan. Seperti saya berangkat ke Tamini Square janjian sama teman alumni kuliah, Fachrur Rozi. Saya menuju ke sana bersama seorang anggota kopdar yang ada acara juga di Tamini. Jadinya saya ikut bareng beliau deh.
Bagaimana itu bisa terjadi, semata-mata karena komunikasi. Lalu, terjadilah ajakan berangkat bersama. Dan saya memutuskan ya. Alasannya selain menghemat biaya taksi. Juga sekaligus sembari menimba ilmu. Sebab, shahabat ini seorang senior trainer bagi saya. Beliau penulis buku Natural Intelligences. Kang Dadang Kadarusman. (Terima kasih kang ya tumpangannya). 
Akhirnya, saya tiba di tempat tujuan bersama dengan teman saya Fahrur Rozy. Setelah dia menjemput saya di depan Tamini Square. Di rumah Anisa telah hadir beberapa teman, seperti Rima bersama Putrinya, dan Herbi bersama calon pedamping hidupnya.
Jualan atau mencerdaskan?
Adapun hal menarik nan berkesan bagi saya dari arisan ini. Saat teman saya Herbi bertanya ”Broder, para trainer dan motivator eksis di media sosical, FB dan twitter itu benar-benar ingin mencerdaskan masyarakat atau untuk jualan?”. Dia bertanya sambil tersenyum dan menaikkan alisnya.
Mendengar pertanyaan itu, seperti ada hentakan dalam diri saya. Saya jeda selama 5 detik kemudian baru menjawab. ”Pada intinya adalah untuk mencerdaskan. Selain itu untuk personal branding”. Saya jawab. Lalu Herbi menyambut ”Ooo..”.
Entah mengapa, setelah pulang. Saya merenung kembali pertanyaannya. Jika trainer yang dimaksud itu adalah saya sendiri. Apakah benar saya eksis di FB, Twitter dan Blog murni untuk mencerdaskan masyarakat? Saya rasa tidak. Lantas apa yang membuat saya menjawab pada intinya untuk mencerdaskan masyarakat dan personal branding?
Karena, saya tau beberapa orang trainer murni kehadirannya di FB dan Twitter adalah untuk berbagi pengetahuan. Social media baginya strategi mewujudkan visinya. Sehingga bisa saya katakan. Social media adalah sarana menjalankan misi. Selain dari menulis buku.
Kemudian, ”Kalau bukan tujuan utama mencerdaskan masyarakat atau berbagi pengetahuan yang aku ketahui, terus apa?” Saya bertanya kepada diri sendiri. Ternyata kebenarnya, masih ada niat dalam diri saya. Maksud tujuan utamanya adalah jualan. Kemudian personal branding. Baru sedikit benar-benar adalah berbagi ilmunya.  
Alasannya, kalau dulu setiap menulis artikel di blog berharap agar ada yang mengomentari. Kalau sekarang berharap, setiap pembaca catatan yang saya tulis menuntaskan bacaannya. Ada harapan agar mereka menghubungi saya untuk menjadi pembicara padaacara mereka. Atau, bagi mereka ada permasalahan emosi dan mental (pikiran dan perasaan) mau berkonsultasi dengan saya.
Manfaat silaturahim
Setelah menyadari hal ini. Kemudian saya menyentuh dada saya. Persis di tengah-tengah antara kedua paru-paru. Lalu saya usap memutar-mutar sambil mengatakan ”Wahai diriku, aku mencintaimu. Aku menerima mu. Aku ikhlas dan Ridha apa pun perilakuku saat ini”. Saya mengucapkan sampai 5 kali.
Kembali kepada manfaat dari silaturahim. Inilah beberapa hikmah dari tiga agenda silaturahim yang saya lakukan. Dari pengetahuan tentang handling objection, melek finansial—pasif income—, sampai transformasi diri.   
Ciganjur, 6 Januari 2013

Inspirasi Kentut


Inpirasi di sekitarku
Sungguh, inspirasi itu bisa hadir dan terjadi karena hal terkecil di sekelilingku. Bahkan yang melekat dan menjadi bagian diriku. Contohnya saja satu kata yang terdiri dari 6 huruf ini.K E N T U T. Fisiknya tak bisa di raba. Matapun tak mampu melihatnya. Kecuali mendengar dan mencium saja. 
Lantas apa I N S P I R A S I yang dapat sayapetik dari kentut tersebut? Setiap orang, Anda dan saya tentunya berbeda-beda menyikapinya. Kalau saya pribadi, kentut menginspirasi saya dalam hal;
Sebagaimana kita ketahui bersama, lazimnya (terkadang) kentut yang bunyinya terdengar jelas oleh telinga itu, hanya berbunyi saja menggema. Tapi tanpa menyisakan bau khasnya. Ibarat tong kosong bunyinya nyaring. Respon yang terjadi, paling-paling pikiran saya berkata-kata, Oh ada yang baru selesaimembuang gas, alias kentut.
Akan tetapi, ada kentut yang jenisnya, indera pendengaran saya tidak mampu merekamnya, bahkan yang menghembuskannya sendiri juga demikian. Terkecuali diamerasakan semacam ada udara yang lepas dari rongga duburnya
Ghaib tapi nyata
Yang luar biasanya lagi, meskipun kentut semacam ini suaranya tak terdengar, tapi efeknya dahsyat sekali. Ghaib tapi nyata. Tak ubahnya, seperti orang-orang yang datang ke saya yang tujuannya untuk menyelesaikan masalah dendam yang didera. Gara-gara perkataan seseorang membuat jantungnya sakit semacam tertusuk pisau. 
Saat dia menyampaikan permasalahannnya kepada saya “Omongan dia tidak akan pernah saya lupakan pak, hingga membuat saya menderita seperti ini”. Lebih menariknya lagi, sipengucap yang dimaksud klient saya tadi, sudah 10 tahun yang lalu meninggal dunia. Akan tetapi, dalam kepala orang itu, suaranya masih jelas terdengar. Baik redaksi kata-katanya. Maupun intonasinya. Hal itu berulang terus menerus. 
Padahal kalau dipikir-pikir. Orang yang mengucapkan itu telah tiada. Tetapi, bagi klient saya ini seolah-olah masih hidup, dan dia masih mengatakan hal itu lagi kepada si klien. 
Demikianlah kentut tak bersuara itu. Tak kala dia lepas dari selongsongnya. Orang-orang hanya mengetahui, bahwa ada bau yang tak sedap. Namun bertanya-tanya dalam diri, “Siapa yang menyebarkannya?
Sungguh beruntung bagi mereka yang mempunyai rambut hidung nanlebat. Sehingga ada saringannya. Tapi, orang-orang seperti saya yang rambut dalam rongga hidung bisa saya hitung dengan jari. Pasti aroma tak sedap itu langsung menusuk saraf-saraf bau. 
Dan, seketika itu pula, tangan saya meperagakan kelihaian reflektifitasnya dengan menutup hidung saya. Entah menggunakan tisu, atau pura-pura sedang mencium benda terdekat lainnya.
 
Seperti mencium ransel sedang saya gendong. Atau kalau hal itu terjadi saat saya membaca buku. Tiba-tiba saja saya membaca buku dengan jarak kurang lebih 20 cm dari pandangan saya. Bukan huruf pada buku cetakan tersebut kecil-kecil. Akan tetapi, agar hidung mampu menghirup bau kertasnya.
Antara berbuat baik dan kentut
Kembali ke inspirasi kentut. Bagi saya, konteks melakukan kebaikan itu lebih tepat apabila mampu saya lakukan seperti kentut tak bersuara itu tadi. Meskipun dia tidak jelas terlihat oleh mata, dan tak terdengar oleh telinga. Akan tetapi dampaknya sungguh terasa. Dan biarkan saja orang mencari-cari, siapa sebenarnya yang telah melakukannya? 
Tak ubahnya kentut tak bersuara tadi. Setiap kita mencium baunya, maka reaksi kita terkadang pura-pura gak tau. Atau melirik ke kanan dan ke kiri. Saling berbicara dengan bahasa tubuh masing-masing. Atau lewat tatapan mata yang mengandung sejuta makna. Mungkin, pandangan di sana mengkomunikasikan “Apakah Anda mencium bau yang saya cium? Siapa yang mengeluarkannya ya?”.
Cilegon, Selasa 12 Februari 2013

Kapan Saat Yang Tepat Untuk Pindah Kuadran. Dari Karyawan Menjadi Pengusaha?


Kita bisa mendapat lebih dari apa yang sudah kita peroleh sekarang, karena setiap dari kita memiliki kemampuan untuk menjadi lebih dari diri kita yang sekarang.
Jim Rohn (Motivator Dunia)
Buku Pak Wiwoho
Apa Yang Paling Manusia Inginkan?
Dalam buku pertamanya, Reframing. Bapak RH Wiwoho sang pencetus NLP Indonesia mengatakan. NLP itu ada karena penasaran Richard bandler akan pencarian manusia. Ya, pencarian manusia. Saat itu Bandler bertanya kepada dirinya sendiri. Sesungguhnya, apa yang paling dinginkan dan dicari oleh manusia? 
Setelah mencari kesanasini, membaca artikel, buku, majalah, berdiskusi dan menginterview beberapa orang. Akhirnya dia menyimpulkan. Sesungguhnya, manusia paling menginginkan dan mencari-cari yang namanya perUBAHan. 
Seketika itu saya merenung. “Kalau dipikir-pikir benar ya. Sesungguhnya, apa pun yang dinginkan akan bermuara kepada perubahan”. Saya berkata kepada diri sendiri. Contohnya, saya mau lebih bahagia. Artinya, dari bahagia saya mau berubah menjadi lebih bahagia. Dari pengangguran ingin mendapat pekerjaan. Tetap intinya adalah berubah. Anda juga pastinya, kan?
Terapi Kasus Unik
Sementara itu, tahun 2010 silam. Saya mendapat kesempatan menerapi seorang lelaki. Wajahnya oval. Rambutnya belah samping. Badannya tidak terlalu gemuk dan juga tidak kurus. Proporsional dengan tinggi tubuhnya. Dia mengenakan kaos oblong warna biru yang tidak saya  ketahui mereknya. Dari pinggang ke bawah tertutup oleh celana jeans. Hari itu dia memakai sepatu kets berwarna hitam. 
Masalah yang dia alami menurut saya lumayan unik. Jarang terjadi di kebanyakan laki-laki. Tapi bukan menafikan keberadaan mereka. Bukan pula, mereka yang mengalami permasalahan seperti lelaki yang saya terapi ini salah. Meskipun, jika ditinjau dari segi agama melarangnya. Efek larangan ini, membuat dia kapok mencari solusi ke pemuka agama. Dan akhirnya bertemulah dengan saya.
Singkat cerita, sambil makan di rumah makan padang—karena saya tidak mempunyai ruang klinik khusus, maka menerapi di tempat yang kondusif untuk konseling. Sang lelaki menyampaikan permasalahannya. Setelah lama kita mengobrol, akhirnya tercapai solusi sesuai keinginannya. 
Pola Yang Terulang
Daurie Sedang Training
Kemudian, selesai terapi saya kembali ke tempat kosan saya—saat itu saya belum menikah—di daerah Matraman. Sampai di kosan, saya mengambil HP Nexian dan mencari no kontak teman dekat saya Daurie Bintang—seorang seniman & Coach—yang sudah terekam di sana. 
Sambil duduk di kursi terbuat dari rotan di depan rumah ibu kos. Saya menghubunginya dan bercerita tentang pengalaman yang baru saja saya lakukan. Yaitu, menerapi seorang lelaki yang permasalahannya lumayan unik. Saya bercerita selama 5 – 7 menit. Kemudian sahabat saya merespon. Kata-kata dia masih saya ingat sampai sekarang.
Rahmad, biasa kalau sudah membantu suatu kasus—seperti kasus unik yang baru saja saya selesaikan—maka besok akan ada lagi yang memintamu untuk membantu kasus serupa, tapi orangnya berbeda”. Kata Daurie. “Jadi siap-siap saja ya..he..he..”. Dia melanjutkan sambil tertawa kecil.
Saat yang Tepat Pindah Kuadran
Ucapan sahabat saya Daurie itu, entah hipotesa atau kenyataan. Akan tetapi, faktanya. Sebulan sesudah saya menerapi kasus yang saya anggap unik itu. Ada lagi lelaki yang meminta saya untuk menyelesaikan permasalahannya. Dan kasusnya juga serupa. Namun sayang tidak sampai tuntas (selesai). Karena terapinya cuma sekali, dan itu pun lewat chatting facebook. 
Cash flow Quadran R. T Kyosaki
Hal serupa yang saya alami seminggu ini. Ada dua orang teman saya bertanya kepada saya, lebih tepatnya saya sebut minta saran dan pendapat saya. Kedua-duanya mempunyai keinginan untuk pindah kuadran. Dari karyawan menjadi wirausaha. 
Kapan saat yang tepat untuk keluar kerja dan melakukan hal sesuai PASSION kita mas?“. Tanya seorang teman kepada saya lewat chat Blackberry mesangger. (270FE9B7, ini pin BB saya, silakan add ya!).
Yang satunya lagi sambil makan sup buntut, ayam bakar madu dan sate. Dia bertanya, “Apa pendapat mas Rahmad. Saya mau keluar kerja dan membangun bisnis saya sendiri. Saya sudah survey tempat dan menghitung modal awal agar usaha bisa berjalan. Butuh biaya sekitar Rp.50juta. Saya rencana mau meminjam kepada bank. Cuma resikonya rumah sebagai anggunan?”. Kata teman saya yang suka senyum ini.
Cara Nekat dan Berani
Kepada kedua sahabat saya ini saya memberikan jawaban yang sama. Kurang lebih redaksinya seperti ini. 
“Jika bapak mengikuti anjuran orang NEKAT, maka kalau sudah yakin, keluar saja dan memulai usaha yang Anda sangat passion dalam melakukannya. Tapi saya lebih setuju cara orang BERANI. Yaitu, pertama cek terlebih dahulu.

  1. Apakah ada beban hutang kepada bank (Kredit)? (Rumah, mobil, motor, atau lainnya)?
  2. Apakah masih ada angsuran asuransi, premi bulanan, 3 bulanan, atau tahunan?
  3. Apakah sudah ada simpanan dengan jumlah nominal 6 kali gaji?” 

Kemudian saya melanjutkan memembuat simulasi. “Contoh, Gaji bulanan selama ini Rp.8.000.000,- perbulan. Ada cicilan mobil plus asuransi Rp. 3.250.000,- bulan. Maka, setidaknya sebelum keluar dari tempat kerja. Pastikan sudah ada simpanan 8jt + 3.25. Atau sekitar Rp.11.250.000,- x 6 = Rp. 67.500.000,“. 
Pastikan Tabungan Cukup
“Mengapa demikian? Karena, saat kita memulai usaha yang kita rintis dari awal nantinya, kita belum tau pasti kondisi pendapatan yang kita peroleh. Jadi, selama kondisi bisnis yang belum menentu—hasilnya—kita sudah mengamankan operasional rumah tangga. Dan uang simpanan ini tidak boleh dipakai untuk apa pun. Hanya kita persiapkan untuk keperluan rumah tangga selama 6 bulan”. 
Terakhir saya menambahkan alasan saya. “Mengapa seperti itu? Sebab, jika kondisi keuangan rumah tangga tidak aman. Bisa jadi hal itu merusak konsentrasi saat berbisnis. Memang tak bisa kita elak. Yang namanya peristiwa di luar dugaan pasti selalu terjadi dalam kegiatan apa pun. Namun, setidaknya kita sudah menyiagakan diri sebelum itu terjadi”.
Jangan Mengikuti Anjuran Ini
Kepada pembaca yang berbahagia. Apabila saat ini Anda mempunyai pertanyaan serupa—seperti kedua shahabat saya. Saya menghimbau agar tidak mengikuti saran saya ini. Karena, saran di atas itu hanyalah pendapat saya. Di mana pendapat itu belum pernah saya alami. 
Akan tetapi, saya memperoleh ide itu dari seorang teman yang pernah bekerja di perusahaan bonafid—juga posisi serta pendapatannya—tapi kini telah berkecimpung pada bisnisnya sendiri. 
Seandainya pun pemikiran ini cocok bagi Anda. Itu adalah hak Anda bertanggung jawab dalam kehidupan Anda sendiri. Oh ya, kasus unik yang saya maksud di atas adalah homoseksual. 
Ciganjur, 29 Januari 2013
Salah Satu Suasana Kelas Training Saya
Ikuti Workshop “Explore Your Potentials With NLP” tentang cara merumuskan Visi Hidup, menemukan Passion dan mengoptimalkan Potensi Diri. Minggu, 17 Februari 2013, @Hotel Syahida Inn Komplek Pasca UIN Jakarta. Hubungi 0878.7603.7227 Sekarang.

3 Potong Saja Sudah Lebih Dari Cukup, Percaya?


Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.
QS; Al-A’raf;31
Lebaran dapat baju baru
Bila Lebaran sudah mulai datang, baik Idul Fitri maupun hari raya kurban (Idul Adha). Jiwa saya selalu tergoda olehnya. Bagaimana tidak? Sebelum tsunami menyapa—semasa Ayah dan Ibu saya belum tiada—Lebaran telah menjadi budaya beli baju baru dalam keluarga saya. Hal ini selalu saya alami. Lebaran dapat baju baru.
Oleh karena itu, hampir tiap tahun, Alhamdulillah saya mempunyai 2 potong baju dan celana. Acapkali, rasanya hari lama sekali bergerak jika baju sudah tiba di rumah. Seandainya 2 potong baju itu dibeli 4 hari sebelum 1 Syawal. Maka, 4 hari menjelang Idul Fitri, rasa-rasanya tiada hari tanpa penyiksaan bagi saya.
Tak Sabar Menanti
Saya tersiksa lama menanti hari takbiran tiba. Sungguh, jam itu seolah lama sekali bergerak. Selama masa itu pula. Bukan hanya jam bermerek Seiko bersegi empat di dinding kamar saya perhatikan. Tetapi, hampir dua jam sekali—bila saya berada di rumah—saya membuka risleting lemari plastik untuk melihat baju baru, mencium bau yang terdapat pada setiap baju baru dan menyentuhnya. 
Bisa Anda bayangkan. Melihat, mencium dan menyentuh saja, pikiran saya sudah menerawang kelak saat baju ini saya kenakan. Oh, betapa bahagianya saya. Inilah kenikmatan masa kecil ketika orang tua masih hidup. Setiap lebaran mendapat baju baru dari mereka.
Beli Sendiri
Semenjak saya kelas 3 SMA dan kuliah. Tiap tahun saya masih mendapatkan 2 potong baju baru. Cuma bedanya. Kalau dulu saya dibelikan. Saat beranjak remaja, saya membeli sendiri. Uangnya tetap dari dompet ayah saya J.
Selain itu, orang tua saya mempunyai cara unik mendidik saya dalam hal memakai baju. Mengapa saya mengatakan unik? Karena, sedari masih SD. Orang tua mengajarkan saya agar pandai-pandai memilih baju. Memilih bukan karena kesesuaian antara warna celana dengan warna baju saya pakai. 
Akan tetapi, saya harus membedakan; yang mana baju untuk bermain di kampung bersama teman-teman saya. Dan yang mana baju harus saya kenakan kalau tujuan keluar rumah untuk ke kota. Atau bersilaturahim ke sanak famili—di mana rumah famili tersebut—berbeda kecamatan dari tanah kelahiran saya.
Baju Baru Hanya untuk Berpergian
Jadi, saya bisa menceritakan. Saya mempunyai baju yang lumayan utuh (bagus karena jarang dipakai). Bagaimana tidak, baju yang dibeli (saya beli) tiap Lebaran, jarang sekali masanya untuk saya kenakan. Seandainya pun saya memaksakan untuk memakai baju baru itu untuk bermain bersama teman-teman saya. Maka, mereka—teman-teman saya—pasti  mengajukan pertanyaan bernada penasaran, ”Mau kemana kamu Mad?”.
 
Pertanyaan mereka, seolah seperti sudah menjadi budaya. Baju baru merupakan pakaian untuk berangkat ke kota. Sementara baju biasa-biasa saja, sangat pantas buat bermain selepas pulang dari sekolah. Dan, meskipun biasa-biasa saja, tetapi, baju itu tetap lumayan indah. Tidak jelek-jelek amat.
Tsunami Breaks The Rule
Namun, semenjak tsunami menghadang. Pola memakai baju sudah berubah. Bukan karena saya hijrah ke Bogor atau ke Jakarta sekarang. Akan tetapi, lebih karena perasaan penyesalan terhadap baju-baju baru yang belum sempat saya nikmati, terhempas oleh tsunami.
Karena itulah, sekarang, jika saya membeli baju baru, maka keesokan harinya langsung saya pakai. Dan tidak ada lagi pemisahan, antara baju di rumah (sehari-hari) atau berpergian khusus. Terkecuali, penyesuaian dengan aktifitas. Umpamanya, jika ke kondangan, maka batiklah pilihannya. 
Alhamdulillah, kini saya bersyukur. Setidaknya ada 10 potong baju di lemari. Yang selalu saya pakai, entah mengisi training, ke mesjid atau aktifitas sehari-hari. Dengan 10 potong itu, ternyata sudah lebih dari cukup. Bahkan, saya pantas mengatakan diri saya kaya dalam hal baju ini.
Cukup 3 Potong
Rasa syukur yang paling dalam adalah, baju-baju bergantungan dalam lemari itu, semuanya saya pakai. Tidak ada yang terbengkalai. Kalau pun ada baju sudah sangat jarang saya kenakan. Maka, saya meminta istri membungkusnya untuk memberikan kepada yang lebih pantas. 
Akhirnya, saya menyadari. Ternyata, terkadang tidak semua baju yang saya beli pasti saya pakai. Oleh sebab itu, sepatutnya saya membeli baju, kalau memang saya yakin akan mengenakannya. Bahkan, seorang teman pernah berkata. ”Sebenarnya, 3 potong baju itu, sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan kita”.
Ciganjur, Minggu, 24 Juni 2012
———————————————————————————————–
Ikuti Workshop “Explore Your Potentials With NLPtentang cara merumuskan Visi Hidup, menemukan Passion dan mengoptimalkan Potensi Diri. Minggu, 17 Februari 2013, @Hotel Syahida Inn Komplek Pasca UIN Jakarta. Hubungi 0878.7603.7227 Sekarang.